Home » SBM » Lainnya » Tebu

Tebu

Tebu atau tanaman dengan nama latin Saccharum officinarum merupakan salah satu tanaman perkebunan yang banyak dibudidayakan dan cukup penting di Indonesia. Karena tujuan utama tebu digunakan sebagai bahan baku produksi gula. Banyak perusahaan produksi gula di Indonesia maka tak heran jika banyak perkebunan tebu.

Klasifikasi Tanaman

Tebu atau Saccharum officinarum L. merupakan tanaman perkebunan semusim yang hanya bisa dipanen satu kali dalam satu kali siklus hidupnya. Tanaman tebu ditanam besar-besaran secara monokultur di Indonesia. Menurut United States Department of Agriculture (2018), tebu memiliki klasifikasi tanaman sebagai berikut:

jenis dan manfaat tebu
Perkebunan tebu

Kingdom         

Plantae – Plants

Subkingdom   

Tracheobionta – Vascular plants

Superdivision  

Spermatophyta – Seed plants

Division          

Magnoliophyta – Flowering plants

Class               

Liliopsida – Monocotyledons

Subclass          

Commelinidae

Order             

Cyperales

Family                        

Poaceae – Grass family

Genus             

Saccharum L. – sugarcane P

Species           

Saccharum officinarum L. – sugarcane P

Morfologi Tanaman

    • Batang

Tanaman tebu memiliki batang yang padat, tidak bercabang, dan di penampangnya terdapat lingkaran yaitu berupa ruas yang dibatasi buku-buku. Umumnya, buku-buku berjarak pada interval sekitar 15 sampai 25 cm. Tetapi lebih dekat di bagian batang atas dimana elongasi berlangsung. Warna dan kekerasan batang bervariasi sesuai varietas, dan diameter batang dapat berkisar diameter antara 2,5 cm – 5,0 cm. Batang tebu juga memiliki lapisan lilin yang berwarna putih keabu-abuan dan biasanya banyak terdapat pada batang yang masih muda (James, 2004).

    • Daun

Daun tebu melekat pada batang di setiap buku-buku, secara bergantian dalam dua baris di sisi berlawanan. Daun tebu termasuk pada daun tidak lengkap, karena hanya terdiri dari pelepah dan helaian daun, tanpa tangkai daun. Pelepah memeluk batang, makin ke atas makin sempit. Bagian pelepah terdapat bulu-bulu dan telinga daun. Daun tebu memiliki pelepah yang kuat, biasanya berwarna putih dan cekung pada permukaan atas daun, dan hijau pucat dan cembung di permukaan bawah daun (James, 2004).

    • Akar

Tebu memiliki sistem akar serabut yang panjangnya bisa mencapai satu meter. Sekitar 50% berat dari akarnya berada di atas 20 cm dari tanah, dan 85% di atas 60 cm. Akar tebu dapat menembus tanah dengan potensi air < -15 sampai -20 bar, dengan syarat massa akar utama memiliki air yang cukup. Pertumbuhannya dipengaruhi oleh kelembaban tanah dan suhu tanah, serta volume tanah yang tersedia untuk akar menyebar. Pertumbuhan akar sangat lambat ketika suhu tanah di bawah 18ºC, tetapi meningkatkan secara progresif ke optimum sekitar 35ºC. Suhu tanah yang semakin tinggi menyebabkan pertumbuhan akar juga berkurang (Blackburn, 1984 dalam James, 2004).

    • Bunga

Bunga tebu termasuk dalam malai dengan panjang antara 50-80 cm. Cabang bunga tebu pada tahap pertama biasanya berupa karangan bunga dan pada tahap selanjutnya berupa tandan dengan dua bulir dengan panjang 3-4 mm. Terdapat pula benangsari, putik dengan dua kepala putik dan bakal biji (Indrawanto et al.,2010).

Jenis Tanaman Tebu

Budidaya tanaman tebu di Indonesia umumnya hanya pada 3 jenis tebu diantaranya ialah:

    • Tebu Kuning

Jenis tebu pertama yang biasa ditanam ialah jenis tebu kuning atau disebut juga dengan nama tebu morris, atau ada juga yang biasa menyebutnya dengan tebu hijau. Sesuai dengan namanya, tebu ini didominasi oleh warna kuning yang terdapat pada bagian ruas batangnya. Jenis tebu ini banyak tumbuh di Indonesia dibandingkan dengan jenis tebu yang lain, karena memang tanaman tebu jenis ini asalnya dari Asia Tenggara.

Tanaman tebu ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, sehingga banyak petani yang membudidayakan tebu kuning ini dengan tujuan untuk memasok para industri gula atau industri pangan dan minuman untuk menambah cita rasa produk mereka. Umumnya, tebu kuning di ekspor ke negara tetangga maka tak heran jika tebu dijadikan salah satu tanaman industri negeri.

    • Tebu Hitam

Selain tebu kuning, jenis tebu hitam juga biasa ditanam oleh masyarakat Indonesia. Jenis tebu yang juga dikenal dengan nama tebu ireng (bahasa Jawanya hitam) ini memiliki warna batang yang didominasi oleh warna ungu gelap atau dongker dan ada pula yang berwarna merah tua, intinya warna batangnya gelap.

Tebu hitam ini memiliki kandungan air berwarna kecoklatan dan gelap tidak seperti air tebu jenis lainnya yang berwarna putih kekuning kuningan. Dari sisi diameter batangnya pun juga berbeda, untuk tebu hitam ini memiliki diameter lebih kecil dibandingkan dengan jenis tebu lainnya.

    • Tebu Telur

Meskipun sebenarnya ini bukanlah jenis tebu karena tidak memiliki batang yang manis dan panjang sebagaimana tebu pada umumnya, namun jenis tebu telur ini juga banyak ditanam di Indonesia. Banyak yang menyebut tebu telur ini termasuk kedalam kelompok sayur sayuran dan berbeda dari tebu sebelumnya, tapi masyarakat sudah banyak yang menyebutnya dengan nama “tebu”. Tebu telur ini justru dimanfaatkan isinya untuk dimasak dan menghasilkan masakan yang nikmat dan enak. Di daerah pedesaan atau wilayah yang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak, biasanya bagian daun tanaman tebu digunakan sebagai bahan pembakaran.

Kandungan dan Manfaat Tebu untuk Kesehatan Tubuh

Tebu merupakan tanaman yang banyak ditanam di Indonesia. Selain manis dan sebagai bahan baku produksi gula, tebu juga banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia karena memiliki manfaat bagi kesehatan. Tebu memiliki berbagai macam nutrisi misalnya karbohidrat, protein, mineral, vitamin, dan antioksidan.

Berbeda dari kebanyakan tumbuhan, tanaman tebu yang dimanfaatkan ialah bagian batangnya. Karena pada bagian batang itulah terdapat banyak kandungan gizi yang dapat bermanfaat untuk tubuh kita. Dengan berbagai macam nutrisi, tebu memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya:

    • Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh

Kandungan vitamin C dan antioksidan yang ada pada batang tebu memiliki banyak manfaat bagi kesehatan salah satunya adalah untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, vitamin C dan antioksidan membantu tubuh menghindari berbagai penyakit serius termasuk kanker.

    • Penambah Energi yang Alami

Air tebu memiliki kandungan glukosa yang cukup tinggi, sehingga bisa membantu meningkatkan energi tubuh kamu. Tebu memiliki kandungan glukosa alami yang juga dapat mendorong metabolisme dalam tubuh.

    • Merawat Kulit

Kandungan ontioksidan dalam tebu bisa membantu kamu merawat kulit. Air tebu bisa membantu meredakan infeksi kulit, memperbaiki penampilan kulit, dan mengurangi gejala penuaan dini.

    • Menghilangkan Bau Mulut

Manfaat lain dari air tebu ialah untuk menghilangkan bau mulut. Jika ada masalah bau mulut kamu bisa mengonsumsi air tebu karena mengandung mineral yang cukup tinggi.

    • Memperkuat Tulang dan Gigi Kamu

Tebu memiliki kandungan kalsium yang cukup tinggi, sehingga sangat bagus manfaatnya untuk menguatkan tulang maupun gigi. Air tebu bisa dikonsumsi atau bahkan mengunyah batang tebu yang sudah dibersihkan dan dipotong kecil-kecil. Maka dari itu, akan semakin dapat merasakan manfaat dari tebu.

    • Membuat Tubuh Menjadi Rileks dan Mengurangi Stres

Selain mineral dan antioksidan, air tebu juga mengandung asam amino yang bisa membuat tubuh menjadi lebih rileks dan mengurangi kadar hormon stres. Asam amino juga bisa membantu meningkatkan kualitas waktu tidur, sehingga tidur menjadi lebih nyenyak dan pikiran menjadi lebih tenang.

Pertumbuhan Tanaman

Tanaman tebu umumnya ditanam sebagai tanaman tahunan dan dipanen beberapa kali sebelum ditanam kembali. Siklus pertama disebut dengan tanaman pertama (Plant Crop) dan tanaman selanjutnya sebagai tanaman keprasan (Ratoons). Pertumbuhan tanaman tebu terdiri dari 5 fase diantaranya fase perkecambahan, fase pertunasan, fase pertumbuhan batang, fase kemasakan, dan fase pasca panen.

    1. Fase Perkecambahan

Fase perkecambahan adalah titik awal kehidupan tebu yang menentukan baik buruknya stadium berikutnya. Perkecambahan dimulai dengan membengkaknya mata tunas lalu pecah dan tumbuh kuncup, kuncup memanjang bersamaan munculnya akr stek, kuncup menjadi taji lalu menjadi daun dan mekar.

Fase perkecambahan berlansung selama 4-6 minggu. Perkecambahan dinilai berhasil apabila presentasenya 60%-90% dari mata tunas yang ditanam. Hanjokrowati (1981) menjelaskan faktor penting dalam perkecambahan tebu meliputi faktor eksternal, yaitu pengolahaan kebun, pemilihan tempat, hama penyakit dan perlakuan bibit sedangkan faktor internal, yaitu kualitas bibit, kandungan glukosa, nitrogen, dan air.

    1. Fase Pertunasan

Fase pertunasan merupakan proses keluarnya tunas–tunas anakan baru yang keluar dari pangkal tebu muda (tunas primer). Proses ini berlangsung mulai tebu berumur 5 minggu sampai 3-4 bulan (bergantung pada varietasnya). Sumber daya alam yang dibutuhkan pada fase ini antara lain : air, sinar matahari (berpengaruh pada hormone pemacu pertumbuhan anakan), hara N dan P serta oksigen untuk pernafasan dan pertumbuhan akar. Kondisi sinar matahari yang kurang, ditambah dengan kebun drainasenya buruk dan juga tanah terlalu padat akan mengganggu pertumbuhan tunas anakan (Murwandono, 2013).

    1. Fase Pemanjangan Batang

Fase perpanjangan batang sering disebut dengan pertumbuhan besar (grand growth period) atau pertumbuhan cepat. Biomassa tebu bertambah secara eksponensial dengan daun bertambah banyak, diameter batang membesar, dan batang bertambah memanjang dengan menumbuhkan ruas-ruasnya. Tebu memerlukan banyak air pada fase ini agar akar berfungsi normal (Murwandono, 2013). Saat fase perpanjangan batang terjadi perlambatan pertumbuhan tunas. Pemanjangan batang berlangsung pada stadia pertumbuhan umur tanaman 39 bulan (Yuono, 2013).

    1. Fase Kemasakan

Fase kemasakan berkaitan dengan pengisian batang tebu dengan sukrosa yang dimulai dengan pertumbuhan vegetatifnya berkurang. Fase ini merupakan fase pertumbuhan tahap akhir dimana kecepatan pertumbuhan mulai melambat yang ditandai dengan pendek dan kecilnya ruas batang tebu. Keperluan air dan unsur hara sudah jauh berkurang pada fase ini. Apabila kondisi lingkungan berkecukupan unsur nitrogen dan air, akan menyebabkan proses pemasakan terhambat karena tebu terus tumbuh sehingga perolehan rendemennya rendah (Hadisaputro dan Pudjiarso, 2000).

    1. Fase Pasca Panen

Fase terakhir yaitu pasca panen, terjadi saat tanaman tebu berumur 12 bulan. Tanaman mulai menunjukkan gejala mati dan daun kering, selain itu kadar gula  tertinggi terdapat pada batang bagian bawah. Kadar gula akan mulai berkurang karena mengalami perombakan menjadi bahan bukan gula (Kuntohartono, 1999).

Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tebu

Pertumbuhan tanaman tebu tidak akan lepas dari pengaruh faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tebu diantaranya:

    • Suhu

Suhu sangat berpengaruh pada fase pembentukan anakan. Suhu optimum untuk pembentukan anakan adalah 300C. Suhu di bawah 200C akan menghambat pembentukan anakan. Anakan yang terbentuk lebih awal akan menghasilkan tebu dengan batang lebih besar dan berat. Anakan yang terbentuk lebih akhir akan mati atau menjadi pendek dan tidak matang (Kuntohartono, 1999).

    • Cahaya Matahari

Pengaruh persentase cahaya matahari terhadap pertumbuhan tanaman tebu ternyata sangat kompleks. Dalam keadaan cahaya matahari penuh, batang tebu menjadi besar tetapi lebih pendek ruasnya, daun lebih luas, dan lebih hijau. Tanaman yang tumbuh di bawah kekurangan cahaya matahari mempunyai bentuk batang dengan ruas yang kecil dan panjang, daun yang tipis dan sempit dengan warna agak kekuningan (Kuntohartono, 1999).

    • Angin

Pengaruh langsung dari angin akan mengakibatkan tebu menderita kerusakan mekanis dan secara tidak langsung merugikan dalam proses transpirasi, kelembapan tanah, kelembapan udara dan lain sebagainya. Kerusakan mekasih akan terjadi apabila angin mencapai tingkat topan atau angin rebut. Selain kerusakan mekanis, tebu akan menghasilkan rendemen yang rendah karena faktor kerobohan (Kuntohartono, 1999).

    • Tanah

Tanaman tebu bisa tumbuh baik di berbagai jenis tanah contohnya tanah alluvial, grumosol, latosol dan regusol dengan ketinggian berkisar antara 0–1400 m diatas permukaan laut. Akan tetapi lahan yang paling sesuai adalah kurang dari 500 m di atas permukaan laut. Ketinggian lebih dari 1200 m d iatas permukaan laut pertumbuhan tanaman relatif lambat. Kondisi lahan yang baik untuk tanaman tebu adalah berlereng panjang, rata dan melandai sampai 2% apabila tanahnya ringan dan sampai 5% apabila tanahnya lebih berat.

Tekstur tanah yang ideal bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah tanah ringan sampai agak berat dengan kemampuan menahan air cukup dan porositas 30%. Struktur tanah yang baik untuk pertanaman tebu adalah tanah yang gembur sehingga aerasi udara dan perakaran berkembang sempurna.Tanaman tebu menghendaki solum tanah minimal 50 cm dengan tidak ada lapisan kedap air dan permukaan air 40 cm (Indrawanto et al, 2010).

    • Curah hujan

Curah hujan yang baik untuk tanaman tebu ialah berkisar antara 1.000 – 1.300 mm per tahun dengan sekurang-kurangnya 3 bulan kering. Distribusi curah hujan yang ideal untuk pertanaman tebu adalah pada periode pertumbuhan vegetatif diperlukan curah hujan yang tinggi (200 mm per bulan) selama 5-6 bulan. Periode selanjutnya selama 2 bulan dengan curah hujan 125mm dan 4–5 bulan dengan curah hujan kurang dari 75 mm/bulan yang merupakan periode kering. Periode ini merupakan periode pertumbuhan generatif dan pemasakan tebu (Indrawanto et al, 2010).

    • Kelembaban

Kelembapan dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, karena dapat mempengaruhi proses fotosintesis. Kelembaban udara sangat erat kaitannya dengan jumlah uap air di udara. Tanaman tebu dapat tumbuh optimal pada daerah dengan kelembaban kurang dari 70%. Apabila kelembaban terlalu tinggi akan memicu pertumbuhan jamur sehingga akan menurunkan rendemen maupun produktivitas tebu (Rochimah et al. 2014).

Lihat Keluar

umm